<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Musyarof's Site</title>
	<link>http://www.musyarof.net</link>
	<description>Sebening Embun, Secerah Mentari</description>
	<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 09:05:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Be happy&#8230;.</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/12/12/be-happy/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/12/12/be-happy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 09:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan pena]]></category>

		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/2008/12/12/be-happy/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata. Untuk menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia dicintai. Manusia bisa bahagia, bila ia mau membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya dengan tulus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/12/12/be-happy/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk&#8230; kita sambut Ramadhan</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/08/25/yuk-kita-sambut-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/08/25/yuk-kita-sambut-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 09:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat&#8230;.
Ibadah Ramadhan tidak lama lagi Mari kita senantiasa Setting NIAT, Upgrade IMAN, Download SABAR, Delete DOSA, Approve MAAF &#38; Hunting PAHALA. Agar Kita Getting GUEST LIST Masuk SURGA-Nya. Pulang ke kampung SURGA Yuuukkk! Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN,,eettt jangan lupa bawa peta QUR&#8221;AN &#38; SUNNAH, juga Bekal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat&#8230;.</p>
<p>Ibadah Ramadhan tidak lama lagi Mari kita senantiasa Setting NIAT, Upgrade IMAN, Download SABAR, Delete DOSA, Approve MAAF &amp; Hunting PAHALA. Agar Kita Getting GUEST LIST Masuk SURGA-Nya. Pulang ke kampung SURGA Yuuukkk! Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN,,eettt jangan lupa bawa peta QUR&#8221;AN &amp; SUNNAH, juga Bekal TAQWA&#8230;.Semoga Qta ketemu disana. Kini Ramadhan akan segera tiba, dengan kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan. MARHABAN YA RAMADHAN. &#8220;Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya&#8217;bana Wa Balligna Ramadhan&#8221; Selamat mempersiapkan diri tuk sambut ibadah puasa 1429 H. Mari kita kuatkan Iman, bersama menyongsong Bulan penuh Rahmah, Maghfirah dan Berkah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/08/25/yuk-kita-sambut-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nasehat dari sahabat</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/06/04/nasehat-dari-sahabat/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/06/04/nasehat-dari-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita. Tidak pula dapat selalu memahami gejolak jiwa yang ada di dalam diri kita. Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu walaupun ia adalah sahabat karibmu sendiri. Karena perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah di setiap waktu. Hari ini ia adalah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita. Tidak pula dapat selalu memahami gejolak jiwa yang ada di dalam diri kita. Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu walaupun ia adalah sahabat karibmu sendiri. Karena perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah di setiap waktu. Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu, Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu. Janganlah memaksa karena saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa. Cukuplah hanya Allah tempat mencurahkan segala isi yang ada di hati kita dan menumpahkan segala perasaan yang ada di jiwa. Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/06/04/nasehat-dari-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DAKWAH UMUM DI KAMPUS</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/05/26/dakwah-umum-di-kampus/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/05/26/dakwah-umum-di-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 06:18:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dakwatuna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Dakwah adalah menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga mereka yang didakwahi itu mengingkari segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan mengimani Allah dan mereka keluar dari kegelapan sistem hidup jahiliyyah menuju kepada terangnya jalan Islam.
Pengertian “menyeru kepada jalan Allah” menunjukkan tingginya nilai kegiatan dakwah “Dakwah” merupakan suatu risalah Ilahiyyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dakwah adalah menyeru manusia ke jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik sehingga mereka yang didakwahi itu mengingkari segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan mengimani Allah dan mereka keluar dari kegelapan sistem hidup jahiliyyah menuju kepada terangnya jalan Islam.</p>
<p>Pengertian “menyeru kepada jalan Allah” menunjukkan tingginya nilai kegiatan dakwah “Dakwah” merupakan suatu risalah Ilahiyyah yang terpuji dan mulia. Para penyeru ke jalan Allah tentu merupakan manusia pilihan Allah yang disayangi-Nya. Mereka merupakan aparat-Nya untuk menyampaikan hidayah dan bimbingan Allah. Firman Allah:</p>
<p>Siapakah yang lebih baik perkatannyan dari orang yang menyeru ke jalan Allah dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Islam)”. (QS Al Fushshilat 33).</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p>Dan seandainya Allah menunjuki sebab engkau, maka itu lebih baik baik dirimu dari pada dunia dan segala isinya. (HR Bukhori Muslim)</p>
<p>Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan maka dia mendapat pahala sesuai dengan yang diperoleh orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. (HR Muslim)</p>
<p>Barangsiapa memberi contoh yang baik, maka ia memperoleh pahala seperti orang yang mengikutinya (HR Ahmad dan lainnya)</p>
<p>Tak ada kegiatan yang lebih mulia dan tugas yang lebih utama dihadapan Allah dari berdakwah ke jalan-Nya. Bukankah dengan dakwah ini kita melanjutkan Risalah Rasulullah Sallalahu Alaihi Wa Sallam, manusia yang paling mulia dan dicintai Allah?</p>
<p>Berdakwah di kampus merupakan bagian integral dari dakwah secara umum. Ia tidak berbeda dengan dakwah kepada manusia lain, hanya obyek dakwahnya memiliki ciri khas tersendiri, yaitu orang-orang terpelajar atau mereka yang mengaku sebagai intelektual atau calon-calon intelektual. Maka tujuan dakwah di kampus ini adalah mengajak para pelajar, mahasiswa dan dosen untuk mengenal Allah, Rasul dan Islam, dengan cara bijaksana dan pelajaran yang baik sehingga mereka beriman dengan keesaan Alllah, kelanjutan risalah, dan kebenaran Islam.</p>
<p>Metode yang baik dan bijaksana dalam dakwah di kampus adalah metode yang dapat diterima oleh obyek dakwah kampus:pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen; dengan tidak menyalahi sunnah Rasulullah. Pelajar dan mahasiswa akan lebih mudah diajak mengenal Allah, Rasul, dan Islam melalui hal-hal yang akrab dan mereka geluti sehari-hari. Pendekatan keilmuan akan sangat membantu keberhasilan dakwah ini. Namun, menyentuh sisi fitrah lebih penting lagi karena obyek dakwah disini umumnya sangat kering dari unsur ruhiyah serta merindukan hidupnya fitrah mereka sebagai manusia yang tengah mencari bentuk pribadi dan jatidiri.</p>
<p>Sasaran dan target dakwah kampus sama saja dengan sasaran dan target dakwah secara umum. Hanya perlu disadari, masyarakat kampus akan menjalani suatu masa yang tertentu di kampusnya msing-masing. Mereka mempunyai kesempatan terbatas di samping selalu digeluti oleh masalah-masalah studi. Jadi pendekatan dakwah yang menyeluruh ini hendaknya mempertimbangkan faktor tersebut. Kesempatan mereka berada di kampus merupakan peluang yang mahal bagi pembinaan, karena kondisinya sangat sesuai untuk penumbuhan berbagai macam kafaah yang diperlukan oleh gerakan dakwah.</p>
<p>Dari itu dakwah umum di kampus hendaknya mengambil batasan yang jelas dalam sasaran dan target yang hendak dicapai. Yang terpokok adalah aktifis dakwah kampus berhasil menyajikan Islam sebagai kebutuhan fitrah insaniyah mereka sekaligus memberikan wawasan tentang integralitas Islam serta peranan mereka dalam kebangkitan Ummat Islam.</p>
<p>Urgensi Dakwah Umum di Kampus</p>
<p>Dengan tumbuh suburnya berbagai kegiatan umum di kampus, kampus akan tampil sebagai pelopor kegiatan Islam. Hal ini membangkitkan elemen-elemen masyarakat lain untuk ikut terlibat berpartisipasi sehingga opini Islam di kalangan masyarakat akan mudah terbentuk.</p>
<p>Karena itu, dakwah Islam perlu menampilkan kegiatan-kegiatan yang diterima secara umum dan menjadi wahana bagi pengembangan kepribadian para pelajar, mahasiswa, dan dosen muslim di kampus. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya telah berlangsung tetapi masih belum sepenuhnya diwarnai dengan Islam atau dikendalikan oleh kita. Ironisnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak jarang dikendalikan oleh orang-orang yang jauh dari ajaran Islam.</p>
<p>Kampus itu merupakan mercusuar masyarakat di satu negeri, karena memberi dampak sosial yang cukup berarti. Dari itu, kita perlu mempertahankan kesinambungan peranan kampus untuk mendukung aktifitas dakwah secara umum. Sehingga bilamana diperlukan, gerakan dakwah dapat menggerakkan para mahasiswa dan pelajar untuk memberi dukungan bagi aktifitas-aktifitasnya dalam rangka mebentuk opini Islam di masyarakat.</p>
<p>Faktor ini kini dirasa semakin kurang mendapat perhatian. Bahkan ada kecenderungan para aktifis dakwah kampus untuk meninggalkan dakwah aamah di kampusnya dan berorientasi pada dakwah takwiniyah semata. Padahal sebuah gerakan dakwah yang baik akan mampu menguasai seluruh aspek kegiatan Islam secara bertahap dan seimbang sehingga kelak dapat menggerakkan berbagai lapisan masyarakat.</p>
<p>Kondisi Kampus Sebagai Medan Dakwah</p>
<p>Kampus adalah lahan yang subur untuk manuver dakwah Islam. Ia berbeda dengan perkantoran, pabrik, pasar, dan lain-lain. Orang-orang yang datang ke kampus memang telah siap untuk menuntut ilmu dan mengembangkan penalarannya. Mereka bersikap terbuka dan kritis terhadap perubahan yang datang.</p>
<p>Namun satu hal yang perlu diingat, dewasa ini, masyarakat kampus umumnya tidak dididik untuk memahami Islam dengan benar, juga tidak dengan metode yang Islami, meskipun kampus tersebut dibuat oleh kaum muslimin (Perguruan Tinggi Islam).</p>
<p>Akibatnya masyarakat kampus memiliki kondisi khas yang merupakan korban pola pendidikan jahiliyyah yang bertumpu pada beberapa segi:</p>
<p>Sikap berpikir ilmiah yang cenderung sekuler.</p>
<p>Kebebasan berpendapat yang menafikan nilai-nilai wahyu.</p>
<p>Kegiatan pendidikan (co education) yang melanggar akhlak.</p>
<p>Kegiatan ekstra kurikuler yang laghwi (tidak bermanfaat ukhrowi)</p>
<p>Hal ini menjadikan masyarakat kampus kering dari nilai-nilai Islam. Mereka yang berminat untuk memperbaiki diri dan kepribadiannya mencari-cari berbagai jalan. Di saat seperti ini masuklah berbagai harokah haddamah (gerakan yang menghancurkan) ke dalam kampus sehingga menjadikan kampus sebagai arena utama mencari kader.</p>
<p>Masyarakat kampus adalah sasaran utama ghazwul fikri yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Boleh dikatakan, tiada kampus yang sunyi dari upaya-upaya tasykik, tasywih, tadzwib, dan tafkir. Orang-orang yang tidak senang dengan Islam sengaja memasukkan berbagai jenis kesenangan dan hiburan yang digandrungi para pemuda. Mereka mengupayakan masyarakat kampus lalai dan jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak segan-segan mempopulerkan berbagai acara sekuler dan bertentangan dengan ajaran agama Islam. Kita lihat berbagai jenis dakwah Islam mulai menempati tempat yang subur di kampus. Gerakan yang bersifat Juz’i pun mendapat tempat di hati masyarakat kampus, bahkan berkembang khususnya di kampus-kampus sekolah negeri.</p>
<p>Studi tentang medan dakwah kampus terkait dengan unsur-unsur berikut ini:</p>
<p>Peraturan yang berlaku di kampus</p>
<p>Keputusan pemerintah tentang lembaga-lembaga kampus</p>
<p>Keputusan Mendiknas tentang kurikulum</p>
<p>Keputusan pimpinan tentang peraturan-peraturan otoritas kampus masing-masing</p>
<p>Suasana ilmiah yang dibentuk kampus tersebut</p>
<p>Perpustakaan</p>
<p>Laboratorium</p>
<p>Studio</p>
<p>Suasana lingkungan kampus</p>
<p>Pemondokan (asrama, tempat kost, kontrak rumah, dsb-nya)</p>
<p>Sarana-sarana ibadah (mesjid, gereja, pura, dsb-nya)</p>
<p>Sarana-sarana hiburan dan olahraga (diskotik, stadion/lapangan olahraga, bilayard, video game/play station, bioskop, dsb-nya)</p>
<p>Kecenderungan umum para pengajar beserta karyawan-karyawan di kampus tersebut</p>
<p>Kecenderungan mahasiswa atau pelajarnya</p>
<p>Kecenderungan pada kegiatan fisik</p>
<p>Kecenderungan pada kegiatan seni</p>
<p>Kecenderungan pada kegiatan ilmiah</p>
<p>Kecenderungan pada kegiatan sosial</p>
<p>Kecenderungan pada kegiatan kerohanian</p>
<p>Maka para mahasiswa di kampus dalam pandangannya terhadap Islam dapat kita golongkan dalam:</p>
<p>Mereka yang antipati terhadap ajaran Islam (non Islam, sekuler, nasionalis)</p>
<p>Mereka yang tidak perduli terhadap ajaran Islam (floating mass)</p>
<p>Mereka yang menaruh minat terhadap Islam tetapi belum menemukan jalan</p>
<p>Mereka yang sangat antusias terhadap Islam tetapi mengambil jalan yang salah</p>
<p>Mereka yang terlibat dengan dakwah Islam di kampus</p>
<p>Ditinjau dari sisi dakwah, kondisi kampus dewasa ini sangat memprihatinkan. Termasuk di sekolah atau universitas yang berlabelkan Islam. Langkah penyelamatan hendaknya segera dilakukan untuk kejayaan Islam wal muslimin.</p>
<p>Sarana-Sarana Dakwah Umum di Kampus</p>
<p>Sarana-sarana untuk kegiatan dakwah umum dan pergerakan terbuka di kampus antara lain:</p>
<p>Unit kerja kerohanian Islam pada jajaran kerja BEM / UKM atau seksi kerohanian</p>
<p>Forum-forum seperti latihan manajemen, latihan kepemimpinan, kursus kader koperasi, kursus jurnalistik, studi terhadap minat dan lain-lain</p>
<p>Himpunan-himpunan jurusan atau profesi</p>
<p>Buletin, majalah dinding, jurnal</p>
<p>Mesjid kampus</p>
<p>Panitia Hari Besar Islam</p>
<p>Kegiatan kerohanian di asrama mahasiswa dan pemondokan</p>
<p>Dan lain-lain</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/05/26/dakwah-umum-di-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>12 Shortcut Windows Logo untuk Percepat Akses Menu</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/05/22/12-shortcut-windows-logo-untuk-percepat-akses-menu/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/05/22/12-shortcut-windows-logo-untuk-percepat-akses-menu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 08:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dengan bantuan shortcut &#8220;Windows Logo Key&#8221; yang ada di keyboard, Anda bisa mengakses control panel ataupun menu-menu yang tersedia di Windows dengan lebih cepat. Pekerjaan Anda pun bisa dengan cepat diselesaikan tanpa perlu sibuk mencari-cari lokasi menu yang Anda ingin buka.
Tombol &#8220;Windows Logo Key&#8221; berada diantara tombol Ctrl dan Alt sebelah kiri keyboard). Hampir semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan bantuan <em>shortcut </em>&#8220;Windows Logo Key&#8221; yang ada di keyboard, Anda bisa mengakses control panel ataupun menu-menu yang tersedia di Windows dengan lebih cepat. Pekerjaan Anda pun bisa dengan cepat diselesaikan tanpa perlu sibuk mencari-cari lokasi menu yang Anda ingin buka.</p>
<p>Tombol &#8220;Windows Logo Key&#8221; berada diantara tombol Ctrl dan Alt sebelah kiri keyboard). Hampir semua merek keyboard memiliki tombol ini.</p>
<p>Berikut ini adalah <em>list shortcut</em> yang menggunakan tombol &#8220;Windows Logo Key&#8221;, yang sering digunakan untuk membantu Anda mempercepat menyelesaikan pekerjaan. Perlu diingat bahwa shortcut tersebut hanya bekerja di komputer yang menggunakan sistem operasi Windows.</p>
<p><strong>Windows</strong>: untuk menampilkan Start menu.</p>
<p><strong>Windows Logo + D</strong>: untuk menampilkan desktop, meminimasi aplikasi windows yang terbuka atau mengembalikan (<em>restore</em>) semua aplikasi windows yang terbuka.</p>
<p><strong>Windows Logo + E</strong>: untuk membuka Windows Explorer.</p>
<p><strong>Windows Logo + F</strong>: untuk menampilkan menu pencarian file (Search Results).</p>
<p><strong>Windows Logo + Ctrl + F</strong>: untuk menampilkan menu pencarian &#8220;Search Results - Computer&#8221;.</p>
<p><strong>Windows Logo + F1</strong>: untuk membuka menu &#8220;Help and Support Center&#8221;.</p>
<p><strong>Windows Logo + R</strong>: untuk membuka kotak dialog &#8220;Run&#8221;.</p>
<p><strong>Windows Logo + break</strong>: untuk membuka kotak dialog &#8220;System Properties&#8221;.</p>
<p><strong>Windows Logo + M</strong>: untuk meminimasi semua aplikasi windows yang sedang dibuka atau dengan kata lain kembali ke desktop.</p>
<p><strong>Windows Logo + shift + M</strong>: kebalikan dari Windows Logo + M, yakni untuk meng-undo semua windows yang diminimasi.</p>
<p><strong>Windows Logo + L</strong>: untuk mengunci <em>workstation</em></p>
<p><strong>Windows Logo + U</strong>: untuk membuka menu &#8220;Utility Manager&#8221;.</p>
<p><em>take from detikinet.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/05/22/12-shortcut-windows-logo-untuk-percepat-akses-menu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Untuk mengobati penyakit ZHOLIM</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/05/16/resep-untuk-mengobati-penyakit-zholim/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/05/16/resep-untuk-mengobati-penyakit-zholim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 01:53:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Tumbuk akar IRI dan DENGKI dengan daun Kesabaran Di dalam Bejana Keimanan, Campur dgn Air rasa takut berdosa kepada ALLAH, Rebus di atas api KETAQWAAN, Setelah matang tuang ke dalam gelas ISTIGHFAR,lalu Sajikan dengan telapak tangan Kejujuran dan hati yg ikhlas, hindari makanan yg mengandung rasa RIA dan SERAKAH, Niscaya atas ijin ALLAH kita akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tumbuk akar IRI dan DENGKI dengan daun Kesabaran Di dalam Bejana Keimanan, Campur dgn Air rasa takut berdosa kepada ALLAH, Rebus di atas api KETAQWAAN, Setelah matang tuang ke dalam gelas ISTIGHFAR,lalu Sajikan dengan telapak tangan Kejujuran dan hati yg ikhlas, hindari makanan yg mengandung rasa RIA dan SERAKAH, Niscaya atas ijin ALLAH kita akan terhindar dari perbuatan ZHOLIM Insya Alloh (amien) &#8220;S U B A H A N A L L A H&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/05/16/resep-untuk-mengobati-penyakit-zholim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DAKWAH FARDIYAH DI KAMPUS</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/05/06/dakwah-fardiyah-di-kampus/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/05/06/dakwah-fardiyah-di-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 02:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dakwatuna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Sosok aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki kemampuan  daya rekrut yang tinggi. Bagi para pelajar,  mahasiswa dan dosen kita, daya rekrut ini hendaknya terus-menerus ditingkatkan  dengan berbagai jalan. Salah satunya adalah dengan dakwah fardiyah yang intensif  terhadap pelajar atau mahasiswa yang berpotensi di kampusnya  masing-masing.
Dakwah fardiyah di kampus sebenarnya tidak jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="snap_preview">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Sosok aktifis dakwah kampus hendaknya memiliki kemampuan  daya rekrut yang tinggi. </span><span style="font-size: 11pt">Bagi para pelajar,  mahasiswa dan dosen kita, daya rekrut ini hendaknya terus-menerus ditingkatkan  dengan berbagai jalan. Salah satunya adalah dengan dakwah fardiyah yang intensif  terhadap pelajar atau mahasiswa yang berpotensi di kampusnya  masing-masing.</span><span id="more-25"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dakwah fardiyah di kampus sebenarnya tidak jauh berbeda  dengan dakwah fardiyah untuk masyarakat umum. Bahkan di sini kita mendapat  kesempatan yang lebih luas untuk melakukan pendekatan ilmiah melalui buku-buku,  studi Islam, kegiatan-kegiatan Islam, dan lain-lain. Pendekatan yang diberikan  hendaknya juga sesuai dengan bidang yang diminati mad’u. </span><span style="font-size: 11pt"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dakwah fardiyah hanya merupakan satu dari sekian banyak  uslub dakwah yang efektif untuk melakukan pembinaan. Pada prinsipnya, Islam  membuka jalan selebar-lebarnya bagi perkembangan uslub dakwah ini, sepanjang  tidak menyalahi metode yang bijaksana dan pengajaran yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Firman Allah: <em>“Serulah ke jalan Allah dengan hikmah  dan pengajaran yang baik. Berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik”.  (QS An Nahl 125).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Rasulullah bersabda: <em>“ Tidaklah seharusnya  orangmenyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar kecuali memiliki tiga sifat,  yakni lemah lembut dalam dalam menyuruh dan melarang (mencegah), mengerti apa  yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang”. (HR  Dailami)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dakwah fardiyah mempunyai akibat dan kesan yang baik  pada pada mad’u, karena mad’u terkontrol sepenuhnyaoleh seorang aktifis dakwah.  Selain itu dakwah fardiyah merupakan jembatan antara dakwah aamah dan  takwiniyah. Ia dilakukan pada tahap permulaan untuk dakwah aamah dan ditahap  pertengahan untuk pengkaderan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Langkah-Langkah Dakwah Fardiyah Di Kampus<em>  </em></span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Inventarisasi Potensi</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Langkah penting dalam memulai dakwah fardiyah di kampus  adalah menginventarisasi potensi kampus. Gunanya untuk memetakan sasaran dakwah  yang akan dilakukan. Inventarisasi ini dilakukan bersama-sama dengan aktifis  dakwah kampus lain di kampus tersebut. Bisa juga dengan melibatkan mereka yang  kenal dengan kondisi kampus seperti para alumni, guru, dan sebagainya, dengan  tanpa menimbulkan kecurigaan dalam pengumpulan datanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Inventarisasi potensi bisa pula memanfaatkan data-data  statistik yang ada pada sekolah, jurusan, fakultas, atau universitas yang  bersangkutan. Ini dilakukan minimal setiap pergantian semester, terutama pada  saat penerimaan pelajar dan mahasiswa baru. Agar efektifnya kegiatan ini,  hendaknya para aktifis dakwah kampus yang ada dalam suatu kampus/sekolah  mengadakan pertemuan rutin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Memilih Mad’u</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Bila aktifis dakwah kampus telah mengenal kondisi medan  dakwah kampus yang dihadapi, maka ia wajib memilih mahasiswa-mhasiswa yang  potensial untuk diadakan pendekatan pribadi. Pilihan dilakukan berdasarkan syuro  dalam pertemuan yang melibatkan seluruh aktifis dakwah kampus yang terlibat  dalam kampus yang bersangkutan atau lembaga dakwah yang kita bentuk. Yang  dimaksud pelajar dan mahasiswa potensial di sini adalah mereka yang memiliki  kemampuan penalaran yang tinggi dan mempunyai fitrah yang baik untuk  dikembangkan ke arah amal Islami di masa datang walau mungkin saat ini  perilakunya belum Islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Melakukan Pendekatan</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Kita perlu memilih langkah yang tepat untuk merekrut  pelajar, mahasiswa atau dosen tersebut. Pendekatan bertujuan untuk membina  hubungan baik (silaturrahim) yang kelak akan ditingkatkan pada hubungan dakwah.  Kunci dari keberhasilan dakwah ini adalah keteladanan. Keteladanan yang  diberikan aktifis dakwah kampus akan memberikan hasil yang maksimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Jenis-jenis pendekatan yang bisa dilakukan antara  lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Pendekatan Jasa</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Ini  sebaiknya dilakukan di tahap awal dakwah fardiyah. Biasanya para mahasiswa dan  pelajar yang baru masuk sangat membutuhkan bantuan dari kakak-kakak kelas mereka  (senior) seperti pencarian pemondokan, biaya sekolah, bea siswa, dan sebagainya.  Alangkah baiknya bila aktifis dakwah kampus membantu mereka untuk mendapatkan  fasilitas-fasilitas kampus kendati hanya sekedar informasi. Mereka yang  memperoleh bantuan ini biasanya merasa sangat berhutang budi dan patuh kepada  orang yang menolongnya sehingga mudah didakwahi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Pendekatan Ilmiah</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dengan memberikan bimbingan pelajaran yang diperlukan  oleh mereka yang kita arahkan. Ini bisa dilakukan dengan tentir-tentir dalam  berbagai mata kuliah atau mata pelajaran tertentu yang biasanya dianggap sulit.  Dalam bimbingan tersebut, tentu saja kita selipkan hal-hal yang bisa menyentuh  fitrah keislaman mereka. Pemberian buku-buku pelajaran, diktat, alat-alat  praktek, dan sebagainya, yang dibutuhkan oleh mereka akan sangat  membantu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Pendekatan Keluarga</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Yaitu Pendekatan berdasarkan hubungan famili dengan  mad’u yang hendak kitapilih. Misalnya kaka terhadap adik, paman terhadap  keponakan, dan sebagainya. Pendekatan ini biasanya cukup efektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Pendekatan Kurikuler</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Yaitu pendekatan yang memanfaatkan penyelenggaraan  kurikulum pelajaran sekolah yang bersangkutan. Bagi para aktifis dakwah kampus  yang telah menjadi dosen melalui pelajaran yang diajarkan atau dengan memberi  tugas-tugas khusus yang membuatnya lebih jauh berkenalan dengan calon mad’u.  para senior bisa memanfaatkan saat-saat OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus)  untuk melakukan hubungan dan menawarkan berbagai jasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Pendekatan Non Kurikuler</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Yaitu pendekatan yang memanfaatkan kegiatan-kegiatan non  kurikuler seperti olahraga atau kesenian. Tetapi para da’i hendaknya  berhati-hati melakukan pendekatan ini, jangan sampai terperosok pada hal-hal  yang laghwi. Para aktifis dakwah kampus yang memiliki keahlian tertentu dapat  memanfaatkan keahliannya dalam pendekatan ini. Misalnya seseorang yang mampu  melakukan beladiri hendaknya menggunakan beladiri tersebut untuk wasilah dakwah  fardiyah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dalam pendekatan hendaknya tidak terlalu ngotot terhadap  orang-orang tertentu yang dianggap potensial. Sebenarnya orang-orang yang mau  mengikuti jalan dakwah ini adalah manusia-manusia pilihan Allah. Tidak mustahil  orang yang kita anggap potensial ternyata sukar disekati. Bershabarlah dalam  melakukan pendekatan karena keberhasilannya sangat tergantung kepada hidayah  Allah terhadap seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Tahapan Dakwah Fardiyah</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Bagian terpenting pembahasan ini adalah melakukan dakwah  fardiyah kepada mad’u yang telah berhasil didekati. Dalam hal ini perhatikan  langkah-langkah berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Memperkenalkan mad’u dengan kebesaran Allah, kemuliaan  dan keagungan-Nya dalam berbagai segi.</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Memperkenalkan mad’u pada kebesaran Allah merupakan  langkah awal dari setiap dakwah fardiyah. Pendekatan yang paling tepat untuk ini  adalah melalui bidang studi yang digeluti oleh para mad’u. Berbagai pengalaman  menunjukkan bahwa para pelajar atau mahasiswa yang punya kecenderungan pada  ilmu-ilmu murni mudah didekati melalui disiplin ilmu yang mereka amati.  Sementara para pelajar atau mahasiswa yang kecenderungannya ilmu sosial  memerlukan penjelasan Islam yang rasional dan menyentuh masalah-masalah fitrah  kemanusiaan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Mad’u dapat kita perkenalkan pada keagungan dan  kemuliaan Allah melalui obrolan-obrolan sederhana tetapi memberikan masukan  imani ke dalam hatinya. Atau dengan memberikan buku-buku aqidah yang sederhana  dengan penjelasan yang menggunakan ayat-ayat kauniyah. Mad’u juga dapat  diperkenalkan pada Allah melalui gejala-gejala sosial kehidupan yang menunjukkan  kebesaran dan kekuasaan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Menjelaskan tentang keindahan dan kesempurnaan ajaran  Islam.</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Setelah pemahaman mad’u tentang kebesaran Allah  terbentuk, ia perlu mengerti tentang ajaran Islam. Maka kewajiban selanjutnya  adalah menyajikan Islam dalam penampilan yang sebaik-baiknya. Islam yang  difahamkan kepada mad’u hendaknya merupakan prinsip-prinsip dasar, jauh dari  ikhtilaf yang ada pada kaum muslimin. Yang paling penting bagi mad’u di kampus  adalah segera memahami aksioma (albadihiyat) dalam islamdan melihat keselarasan  Islam dengan sunah kauniyah (sunnatullah di alam semesta). Jauhkan mad’u dari  memandang Islam secara sempit atau sukar dipelajari karena terlalu banyak  atribut. Bila upaya ini berhasil, rincian Islam akan ia pelajari sendiri dengan  bimbingan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Di  tahap ini, dakwah aamah biasanya memberi peran yang besar dalam menimbulkan  perubahan pada diri mad’u. Karena itu untuk lebih menyempurnakan interaksi mad’u  dengan Islam, hendaknya mereka mulai dibawa pada kegiatan Islam di kampus  seperti mendengarkan ceramah, diskusi keislaman, dan sebagainya yang bersifat  teoritis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Mengadaptasikan mad’u pada suasana hidup  Islami.</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Yaitu dengan membawa mad’u pada kegiatan-kegiatan  praktis Islam. Seperti mengikutsertakannya pada rihlah, jambore, wisata Islam,  pengkajian tafakur di alam terbuka, dan sebagainya. Bisa juga dengan melibatkan  mad’u pada pada kepanitiaan kegiatan dakwah, bazar Islam dan sebagainya. Mad’u  hendaknya dilibatkan dalam pembentukan opini Islam yang dibentuk di  kampus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Target yang ingin dicapai pada langkah ini adalah  membuat mad’u merasakan kenikmatan suasana Islami yang penuh kekompakan dan  persaudaraan. Pada gilirannya ia mempunyai kesimpulan bahwa Islam adalah pedoman  hidup yang sempurna dan tidak ada kelemahannya. Dengan demikian mad’u ’kan  bangga dengan Islam dan mulai mengislamisasikan dirinya atau memperlihatkan  identitas Islam dalam penampilannya sehari-hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Membimbing mad’u dalam beribadat dan mendekatkan diri  kepada Allah</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Kita perlu memperbaiki hubungan mad’u dengan Allah  dengan memberikan penjelasan-penjelasan praktis tentang ibadat seperti sholat,  membaca Al Qur’an, melakukan shoum sunnah dan sebagainya. Beberapa hukum fiqih  yang sederhana hendaknya mulai diperkenalkan kepada mad’u. Dengan memberikan  buku yang praktis atau dengan memb erikan contoh langsung. Tetapi kita harus  menghindarkan mad’u pada bentuk-bentuk ikhtilaf yang membawa pada  perpecahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Sekarang ini banyak mahasiswa memerlukan perbaikan dalam  membaca Al Qur’an tetapi enggan belajar karena tidak ada pembimbing. Banyak pula  mahaiswa yang ingin melakukan sholat tetapi tidak mau mengerjakan karena tidak  ada yang membimbing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Setelah langkah keempat ini tsiqoh mad’u akan semakin  meningkat, di saat itulah kita bisa melakukan kegiatan untuk mengarahkan mad’u  pada kegiatan dakwah khusus atau pengkaderan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 11pt">Mengantar mad’u untuk memperdalam ajaran Islam dalam  halaqoh-halaqoh tarbiyah.</span></strong><span style="font-size: 11pt"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Kita mulai mengajak mad’u untuk mengikuti mukatsaf  tentang islam atau mendorongnya belajar kepada seorang ikhwah yang mampu  membina. Memungkinkan, ia bisa dibina sendiri oleh kita dalam halaqoh. Pembinaan  yang sifatnya umum hanya sampai ke peringkat ini, selanjutnya mad’u  diperkenalkan kepada dakwah yang lebih syamilah. Tentu saja melalui proses  pemilihan yang selektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt">Dari langkah ini, tampaklah kesinambungan dakwah umum  dengan pembinaan yang kita lakukan. </span><span style="font-size: 11pt">Dakwah  fardiyah berfungsi sebagai pengantar bagi aktifitas dakwah yang lebih  mendalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/05/06/dakwah-fardiyah-di-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BAGAIMANA BERDAKWAH DI KAMPUS</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/04/29/bagaimana-berdakwah-di-kampus/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/04/29/bagaimana-berdakwah-di-kampus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Apr 2008 07:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dakwatuna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[
Kami ceritakan kisah  mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda  yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (  QS:Al-Kahfi 13)
Pengantar  
Para pemuda dan  pemudi merupakan sasaran dakwah yang paling potensial. Mereka berada dalam usia  yang penuh vitalitas dan semangat yang dibutuhkan Islam untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="snap_preview"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: Arial"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span>Kami ceritakan kisah  mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda  yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (  QS:Al-Kahfi 13)</span></em><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Pengantar  </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Para</span> pemuda dan  pemudi merupakan sasaran dakwah yang paling potensial. Mereka berada dalam usia  yang penuh vitalitas dan semangat yang dibutuhkan Islam untuk melakukan  perombakan ummat. Diantara generasi muda ini, para pelajar dan mahasiswa  merupakan potensi terbesar bagi dakwah dan gerakan Islam. Karena itu adalah  wajar bila dakwah memprioritaskan pembinaan mereka sebelum pembinaan kelompok  lainnya.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Dalam dakwahnya,  Rasulullah menjadikan para pemuda sebagai sasaran dakwah yang utama. Beliau juga  menjadikan para pemuda yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi di  masyarakat sebagai sahabat-sahabat Beliau. Dalam tahapan dakwah awal di Mekkah,  tidak ada satu sahabat Beliau pun yang rendah akalnya atau berusia di atas  Beliau kecuali Istri Beliau sendiri, Khadijah al Kubro Rodiyallahu anha. Abu  Bakar As Siddiq misalnya adalah seorang ahli sejarah Quraisy, Ali Bin Abi Thalib  merupakan remaja yang sangat cerdas dan tangkas, menjadi harapan para pemuka  Quraisy. Usman Bin affan terkenal dengtan kepandaiannya dalam berekonomi. Umar  Bin Khattab merupakan pemuda berwibawa dengan jiwa kepemimpinan yang menonjol.  Saad Bin Abi Waqqash terkenal dengan ketangkasan dan kecerdasannya. Sahabat yang  lain, kendati tadinya budak seperti Bilal atau Zaid Bin Haritsah, merupakan  orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Sikap Rasulullah ini adalah  karena Al Qur’an menunjukkan bahwa para pemuda merupakan sasaran dakwah yang  potensial dan akan mampu membawa panji perubahan di masyarakat seperti pada  kisah Ashabul Kahfi:</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align: justify"><span>Kami ceritakan kisah  mereka kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda  yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (  QS:Al-Kahfi 13) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Sebagai generasi muda para  pelajar dan mahasiswa memiliki fitrah yang lebih mudah disentuh dengan siraman  ruhiyah yang dapat menghasilkan keimanan. Sementara sebagai kalangan  intelektual, mereka umumnya memiliki kesiapan untuk menerima Islam sebagai Din  Ilmu dan Amal. </span><span>Lebih dari itu, suasana kampus memberi keleluasaan  untuk pengkajian studi-studi Islam. </span><span>Kebebasan mimbar di kampus  dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan dakwah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Pelajar dan mahasiswa juga  terbukti merupakan motor penggerak perubahan masyarakat sepanjang masa. Karena  itu pembinaan terhadap mereka perlu mendapat perhatian serius, jangan sampai  kita didahului oleh pergerakan yang bathil dan menyesatkan. Kreatifitas dan  sifat inovatif mereka merupakan potensi yang penting bagi pergerakan. Itulah  sebabnya dalam fiqhud dakwah, merekalah yang paling potensial untuk menjadi  <em>anasirut taghyir</em> (unsur-unsur perubah) masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Perubahan yang terjadi pada  mereka dapat mempengaruhi opini umum masyarakat dan memberi rangsangan bagi  kelompok-kelompok masyarakat lain untuk turut berubah. Terbukti misalnya dengan  ksus jilbab yang berlangsung pada pelajar SMA umum dan Perguruan Tinggi Umum.  Masyarakat menaruh perhatian serius bahkan banyak yang menaruh simpati. Bahkan,  diantara kaum wanita umum pun kemudian mulai mengikuti jejak mereka yang  berjilbab tanpa canggung atau malu. Yang menggembirakan, sekolah-sekolah Islam  yang dikelola kaum muslimin yang tadinya acuh terhadap masalah jilbab, kemudian  mewajibkan pelajar-pelajar putrinya berbusana muslimah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Penerimaan dakwah yang  syamilah pun dimulai melalui alur kampus. Bahkan sampai saat ini kegiatan dakwah  ini masih berorientasi di sekitar kampus. Memang dakwah tidak boleh terperangkap  sebagai gerakan masyarakat kampus tetapi ia tidak bisa menghindarkan diri dari  menjadikan para pelajar dan mahasiswa sebagai pelopor-pelopor  awalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Manakala dakwah berkembang,  maka secara bertahap ia tidak boleh menjadikan kampus sebagai markas utamanya  lagi. Kampus hendaknya hanya dijadikan sebagai basis umum pergerakan di kalangan  pemuda. Sosialisasi dakwah di luar kampus harus dilakukan dengan memasang  strategi dakwah kampus yang sebaik-baiknya sehingga tetap menjadikan kampus  sebagai ajang dakwah yang semarak dan pelopor perubahan ummat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Maka dakwah di kampus  bukanlah dakwah takwiniyah tetapi dakwah aamah (harokah zhohiroh), tanpa  meninggalkan asholah dalam minhaj tarbiyah. Dakwah aamah di kampus bertujuan  membentuk potensi yang akan menambah elemen kekuatan Islam. Takwiniyah  (pengkaderan) hendaknya tetap berlangsung bagi para mahasiswa dan pelajar  terpilih. Namun aktifitas dakwah takwiniyah ini tidak boleh tampak kecuali  hasil-hasilnya. Kampus harus diwarnai dengan dakwah umum yang digerakkan oleh  para mahasiswa dalam pengkaderan kita dan terhindar dari bahaya gerakan haddamah  baik dari luar Islam maupun dari kalangan kaum muslimin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Membawa dakwah zhohiroh ke  kampus hendaknya menggunakan skala pemikiran yang lebih luas. Di satu sisi,  setiap kampus baik yang umum maupun Islam tetap harus dikuasai, tetapi di lain  sisi takwiniyah tidak boleh berhenti.Untuk mensukseskan dakwah di kampus  hendaknya dipersiapkan keseimbangan pertumbuhan tiga unsur berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -0.25in; text-align: justify"><span>1.<span>  Kader aktifis dakwah kampus yang mampu berdakwah fardiyah. Mereka hendaknya  dikhususkan dalam menunjang dakwah zhohiroh dan ditempatkan sebagai anggota  tetap masyarakat kampus: sebagai pelajar, mahasiswa, dosen, atau guru misalnya.  Atau sebagai ilmuwan/peneliti yang akrab dengan dunia kampus. Mereka hendaknya  mampu menjadi pelopor-pelopor aktifitas dakwah zhohiroh, menjadi qudwah dalam  amal Islami dan menjadi tonggak-tonggak Islamisasi kampus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -0.25in; text-align: justify"><span>2.<span>  Pengarahan dakwah kampus yang sesuai minhaj, tanpa kehilangan asholah tetapi  dapat diterima oleh masyarakat kampus. Ini dilakukan oleh elemen-elemen gerakan  dakwah terkait secara hati-hati dan matang, melibatkan aktifis dakwah kampus  yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, guru, dosen, serta yang memiliki  keterlibatan dengan dunia kampus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-indent: -0.25in; text-align: justify"><span>3.<span>  Berbagai organisasi yang menjadi bungkus pergerakan di kampus, berbentuk lembaga  atau organisasi. Sarana ini menjadi pos dakwah yang memiliki satu warna yang  khas dan diminati oleh para pelajar dan mahasiswa karena kebersihan dan kebaikan  penampilannya. Persiapan yang meliputi fasilitas tidak kami singgung dalam  pembahasan di sini.</span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify"><span>Dengan tumbuh  seimbangnya ketiga persiapan diatas, dakwah di kampus Insya Allah dapat  terealisir dengan sebaik-baiknya. Karena dalam kampus kita hanya melakukan  dakwah umum maka dalam pembahasan ini kita hanya akan membicarakan:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Dakwah Aamah di Kampus. Memperkenalkan tentang  pengertian dakwah aamah serta keadaan kampus pada umumnya.</span></li>
</ol>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Pribadi Aktifis Dakwah Kampus. Menjelaskan sifat-sifat  yang sebaiknya dimilikioleh para aktifis dakwah kampus.</span></li>
</ol>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Dakwah Fardiyah. Menjelaskan tentang langkah-langkah  rekruiting dakwah di kampus serta tahapan-tahapan dakwah fardiyah.  </span>Kemudian bagaimana mengajak mad’u ke dalam pengkajian Islam lebih lanjut.</li>
</ol>
<ol>
<li class="MsoNormal">Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Dakwah. Menjelaskan  dasar-dasar yang harus diketahui para penyelenggara dakwah di kampus sehingga  dapat melakukan kegiatan dakwah mereka dengan sukses.</li>
</ol>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Untuk Para Mubaligh dan Da’I Kampus. Menjelaskan  persiapan-persiapan yang diperlukan seorang mubaligh atau da’i ketika berdakwah  di kampus. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>ksatria kecil tak  bernama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>di garda depan medan juang  !!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-family: Arial"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: Arial"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/04/29/bagaimana-berdakwah-di-kampus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DAKWAH KAMPUS, Harapan dan Kenyataan</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/04/24/dakwah-kampus-harapan-dan-kenyataan/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/04/24/dakwah-kampus-harapan-dan-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 04:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dakwatuna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang
Salah satu  sifat asholah dakwah adalah tetap konstan dalam masalah ushul  dan bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman.  Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah  yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual  tentu berbeda ketika berdakwah terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify">Salah satu  sifat <em>asholah</em> dakwah adalah tetap konstan dalam masalah <em>ushul</em>  dan bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman.  Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah  yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. <span id="more-9"></span>Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual  tentu berbeda ketika berdakwah terhadap masyarakat awam. Kendati esensi yang  disampaikan adalah sama, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara dan  pendekatan yang dilakukan. Semua ini mengingat adanya latar belakang,  situasi-kondisi, watak dan karakter yang berbeda pada setiap strata masyarakat,  bahkan lebih spesifik lagi pada setiap individu manusia. Kita bisa melihat dalam  siroh, bagaimana Rasulullah memperlakukan masing-masing shahabat dan masyarakat  yang dihadapinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify">Dalam  kerangka dakwah yang manhajiyyah, dikenal dua model pendekatan, yaitu <em>dakwah  ‘ammah</em> dan <em>dakwah khashshah</em>. Di mana kaidah dakwah pada asalnya  adalah <em>‘ammah</em> tetapi karena kondisi-kondisi tertentu dapat  menjadikannya <em>khashshah</em>. Pada <em>dakwah ‘ammah</em>, seluruh  kaidah-kaidah yang berlaku bersifat umum, universal, mulai dari tema  pembicaraan, terget yang akan dicapai sampai sarana yang akan digunakan adalah  bersifat umum. Sedangkan pada <em>dakwah khashshah</em>, ia bersifat spesifik  dan tertutup, baik berupa cara, target maupun sarana yang digunakan. Untuk  mempermudah pemahaman kita dalam masalah ini, kita bisa nisbatkan ke dalam  <em>marhaliyah dakwah</em> kita, yaitu <em>tabligh</em>, <em>ta’lim</em>, dan  <em>takwin</em>. Yang termasuk <em>dakwah ‘ammah</em> adalah <em>tabligh</em>  dan <em>ta’lim</em> sedangkan <em>takwin</em> termasuk dalam <em>dakwah  khashshah</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify">Kedua  pendekatan dakwah tersebut dilakukan secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan  dan tuntutan yang ada. Oleh karena itu dirasa perlu untuk membuat suatu kerangka  landasan untuk mengoperasikan semua program Dakwah Kampus dalam bentuk rencana  strategi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah yang manhaji dengan  memperhatikan kondisi <em>waqi’I</em>-nya. Dengan demikian diharapkan usaha dan  upaya penataan dan konsolidasi Dakwah Kampus bisa dijalankan secara terprogram  dan rapih sehingga hasilnyapun dapat optimal dan tentunya Allah SWT akan  memberikan ganjaran atas <em>ihsanul ‘amal</em> para hambanya. Intinya, Dakwah  Kampus yang kita lakukan diharapkan mempunyai <em>Grand Design Dakwah</em>,  sehingga memiliki rencananya (<em>Dakwah by Design</em>). Semua Qiyadah dan  setiap Jundinya tahu betul situasi dan kondisi yang sedang dihadapi, strategi  dan program apa yang harus dilakukan, kriteria SDM yang dibutuhkan serta menuju  tahapan Dakwah Kampus mana arahan dakwah mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Paradigma-Paradigma  Dasar</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sebelum menentukan sebuah  strategi penataan Dakwah Kampus, ada baiknya kita tentukan dulu  Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita sebagai kerangka acuan seluruh  pembicaraan selanjutnya. Adapun Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita  adalah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify">1. Sesuai  dengan <em>asholah dakwah </em>(orisinalitas dakwah) maka Dakwah Kampus harus  disampaikan kepada semua lapisan golongan masyarakat kampus, bahkan kepada semua  individu manusia, karena dakwah yang tidak tersosialisasi dengan baik pada  masyarakatnya niscaya tidak akan memiliki basis pergerakan yang kokoh  <em>(al-qoidatush sholbah</em>), yang pada gilirannya akan mengalami  disorientasi dakwah. Ada suatu kaidah dakwah yang harus selalu diingat oleh  setiap da’I yaitu kita (para da’I) berasal dari mereka (masyarakat), akan  bersama mereka, dan kembali pada mereka <em>(nahnu minhum, wa ma’ahum, wa  ‘alaihim</em>).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify">2. Kaidah  Dakwah di Kampus adalah <em>dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh</em> (dakwah  umum dan aktifitas terbuka). Dakwah umum maksudnya mampu membahasakan muatan dan  aktifitasnya agar mudah diterima oleh berbagai jenis pemikiran dengan bahasa  umum dan universal serta lebih adaptif pada kondisi dan situasi riil. Gerak yang  terbuka (jelas) maksudnya suatu gerak aktifitas yang mencerminkan kerapihan,  keindahan, dan kesinambungan (profesionalitas) sehingga aktifis dan sasaran  dakwah kampus mampu menangkap suatu suasana Islami yang nyata, berada pada  dataran menyatu dengan denyut kehidupan kampus.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify">3. Kaidah  yang lain adalah Dakwah Kampus bukan hanya untuk Dakwah Kampus. Ketika berdakwah  di Kampus, para aktifis dakwah kampus (ADK) harus menyadari bahwa aktifitas  dakwah mereka dibatasi oleh batas waktu kuliah (4-6 tahun), suasana yang homogen  (mahasiswa yg dominan dari segi jumlah, umur yang sebaya serta tujuan untuk  berkuliah) serta usia mereka yang terus bertambah. Dakwah yang sebenarnya ada  diluar kampus, waktu yang lebih lama yaitu lebih dari 45 tahun (berdasar life  expectancy manusia Indonesia 65 tahun), masyarakat yang heterogen serta  kehidupan nyata/riil yang lebih kompleks dibandingkan kampus. Sehingga para ADK  harus menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan paska kampus agar mereka  survive, tetap terus berdakwah paska kampus. <span>Mereka harus mempunyai  kompetensi (IPK, professional, keahlian khusus dan umum) dan kredibilitas  (moralitas, sosial dan perilaku) yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify"><span>4.  Untuk menunjang operasi dan manuver Dakwah Kampus maka kita harus mengoptimalkan  seluruh potensi yang ada, baik internal maupun eksternal. Sehingga semua sarana  dan prasarana dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, selama hal tersebut  telah dipertimbangkan secara <em>fiqhus syar’I</em> dan <em>fiqhul waqi’</em>  (realitas) serta diputuskan lewat mekanisme syuro yang shahih. Ibarat suatu  atom, dakwah harus bisa membuat lingkungan di sekitarnya berputar-putar  mengelilinginya meskipun dalam orbit yang berbeda-beda. Kaidah ini pun merupakan  penjabaran lebih lanjut dari kaidah Dakwah ‘Ammah karena mengikutsertakan para  mahasiswa selain para ADK. Dakwah Kampus makin membumi dan mengakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify"><span>5.  Program Dakwah Kampus yang akan digulirkan haruslah diset-up secara  <em>marhaliyah</em> (bertahap) dengan mempertimbangkan <em>fiqhul awlawiyat</em>  (azas prioritas) dan <em>fiqhul muwazanat</em> (azas kesetimbangan), dan harus  senantiasa dimutaba’ahi hasilnya <em>(in control</em>). Hal ini dimaksudkan agar  obyek dakwah mendapatkan treatmen yang sesuai dengan pemahamannya dan di sisi  lain hal-hal yang berbobot <em>amniyyah</em> tetap terjaga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify"><span>6.  Dalam pelaksanaan Dakwah Kampus harus memperhatikan prinsip <em>amal  jama’i</em>. Adalah merupakan <em>sunnatullah</em> yang tetap bahwa segala  sesuatunya mempunyai keterbatasan masing-masing. Islam mewajibkan berjama’ah  dalam rangka saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan dan kesempurnaan.  Para pemimpin dan prajurit dakwah harus menata dirinya menjadi suatu shaff yang  rapih bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam beramal jama’I diperlukan  <em>software</em> berupa <em>minhaj</em> (metode), <em>wasilah </em>(sarana),  dan <em>uslub</em> (cara). Dengan kata lain diperlukan strategi dan program yang  akan diaktualisasikan. Selain itu juga diperlukan <em>hardware</em> berupa  sistem yang rapih dan koordinasi yang solid serta terarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt -0.6pt 0pt 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify"><span>7.  Dakwah Islam adalah <em>dakwah syamilah</em> yaitu sesuai dengan sifat Islam itu  sendiri. Ini berarti bahwa Dakwah Kampus harus bisa masuk ke semua sektor dan  menjawab semua tantangan yang dihadapinya. Peng’kotak-kotak’an dakwah hanya pada  bidang-bidang tertentu saja adalah merupakan kesalahan besar. Dakwah meliputi  semua aspek dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan dakwah kampus, dakwah  harus bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan yang ada di kampus.  </span><span>Ia meliputi, keilmiahan (IPTEK), keorganisasian, kepemimpinan,  manajerial, administrasi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Dakwah Kampus  harus mampu melahirkan SDM-SDM yang tangguh untuk melakukan Islamisasi Ilmu  Pengetahuan, mempengaruhi, menerjemahkan, atau merumuskan konsep dan nilai-nilai  Islam ke dalam kebijakan-kebijakan publik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0pt -0.6pt 0pt 17pt; text-indent: -17pt; text-align: justify">&nbsp;</p>
<h2><span style="font-size: 12pt">Urgensi Dakwah Kampus</span><span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Urgensi  pemolaan manajemen Dakwah Kampus bukanlah semata-mata karena tuntutan  modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk  lebih komprehensif memolakan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi  tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah  sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat yang digugu,  ditiru, dan dipanuti. Jadi membuat nidzham yang sistemik dan pemprograman yang  jelas merupakan kewajiban bagi setiap rijalud dakwah yang bermujahadah. Artinya,  mentakwin ummat, membentuk generasi rabbani, dan menuju khairu ummah, bukanlah  membangun kerajaan pendeta, rezim junta militer yang facistis, atau sekedar  membuat konfrensi internasional. Akan tetapi risalahnya adalah mewujudkan  pemahaman yang <em>syamil</em> (tidak juz’I) pada setiap diri muslim sekaligus  mengejawantahkannya pada peradaban yang lengkap (tidak sektoral). Ali Ra pernah  berkata: <em>Al Haq yang tidak ternidzham akan dikalahkan oleh al bathil yang  ternizham</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Kampus  adalah komunitas kecil yang merepresentasikan sebuah negara dalam skala mini.  Kampus juga bisa dipandang sebagai pusat informasi yang paling cepat mengolah  data menjadi konseo-konsep yang siap diterapkan di tengah masyarakat. Kampus  adalah sebuah wahana yang mampu membahas segala permasalahan secara komprehensif  melalui pendekatan multi dimensional. Dari sisi rekrutmen, kampus merupakan  tempat berkumpulnya orang-orang yang berpotensi menjadi penentu kebijakan di  masa datang. Bahkan pada saat-saat tertentu kampus dapat juga menjadi faktor  yang ikut menentukan perubahan sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Oleh  karenanya kampus dapat dijadikan sebagai sebuah laboratorium untuk menelurkan  berbagai konsep. Sekaligus berfungsi pula sebagai sarana latihan bagi para  rijalud dakwah dalam menerapkan konsep-konsep tersebut. Homogenitas komunitas  kampus justru bisa menjadi kekuatan untuk menguji seberapa handal kualitas  sumber daya manusia yang ada dan seberapa bagus konsep yang ditelurkan.  Sesungguhnya pergesekan elit dan perdebatan konsep terjadi pada masyarakat yang  berpendidikan tinggi. Sementara, untuk menghindari kecenderungan untuk menjadi  elitis harus dirumuskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat  luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Manajemen Dakwah  Kampus</span></strong><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Apabila telah muncul  persamaan persepsi pada diri setiap rijalud dakwah tentang urgensi dakwah  kampus, amat penting untuk segera dipetakan permasalahan yang ada. Di sinilah  perlunya para rijalud dakwah yang memiliki kemampuan manajerial tinggi. Selain  itu perlu juga dikerahkan rijalud dakwah dari beragam disiplin ilmu untuk dapat  mendekati permasalahan secara multi dimensional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Selama ini pengelolaan  dakwah kampus lebih nampak sebagai sebuah paguyuban. Lembaga musholla, rohani  islam, atau lembaga dakwah kampus menunjukkan kekeluargaan yang tinggi dan mampu  mengikat banyak orang. Akan tetapi pengelolaan organisasinyacenderung  tradisional. Ketergantungan akan figur masih sangat tinggi, sementara  sistemnya-kalau tidak bisa dibilang amburadul-sangat lemah. Lembaga lainnya di  kampus nampak memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melahirkan nidzham yang  sistemik. Dalam hal profesionalitas dan etos kerja, harus diakui bahwa para  rijalud dakwah masih kalah dengan para pialang peradaban barat, minimal dalam  hal <em>performance-</em>nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Oleh karenanya hal pertama  yang harus disosialisasikan adalah urgennya diselenggarakan diklat-diklat  Manajemen Dakwah Kampus di setiap kampus. Mulai dari tingkat universitas,  fakultas, unit-unit kegiatan, sampai jurusan-jurusan. Harus dirumuskan sebuah  paket standard dalam bentuk modul atau diktat yang menjadi tolak ukur bagi  peningkatan sumber daya manusia para rijalud dakwah. Paket tersebut meliputi  <strong>Manhaj Dakwah Kampus</strong>, <strong>tarbiyah ruhiyah, fiqhud dakwah,  fiqhul waqi’I, dauroh murabbi, dauroh sospol, dauroh akademik, dauroh  ijtima’iyyah,</strong> dan <strong>ketrampilan manajemen dakwah</strong>. Pada  hakekatnya paket-paket ini merupakan dauroh tarqiyah yang dikemas secara  menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Manajemen Dakwah Kampus  dapat dijabarkan sebagai kiat-kiat, teknik, panduan, juklak, atau bahkan  model-model dan format kegiatan yang bersifat kongkret. Manajemen Dakwah Kampus  merupakan turunan langsung dari konsep dasar yang bersifat abstrak seperti yang  termaktub dalam materi fiqhud dakwah. Diharapkan para rijalud dakwah memiliki  bekal kemampuan praktis seperti, merumuskan masalah, komunikasi massa, teknik  negoisasi, berpikir alternatif, manajemen strategi, rekayasa sospol, manajemen  rapat, manajemen issu dan opini publik, networking, pengembangan kreatifitas,  membuat keputusan, dan penerapannya dalam sebuah organisasi. Minimal seorang  rijalud dakwah memiliki kemahiran mengelola sebuah kepanitiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Harapannya adalah semakin  banyak dihasilkan konsep-konsep terapan yang siap pakai di lapangan akan semakin  banyak pula praktisi yang siap bekerja untuk dakwah. Suatu saat tidak ada lagi  prinsip “yang penting kerja” akan tetapi telah berubah menjadi “yang penting  kerja dengan ihsan”. Suatu saat juga tidak ada lagi pertanyaan “bagaimana ?”  ketika seseorang diamanahkan sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak ada lagi orang  yang tidak bekerja, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi tidak tahu apa yang  mesti dikerjakannya dan atau tidak mampu mengerjakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Fiqhud Dakwah  sebagai Konsep Dasar</span></strong><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Pemolaan Manajemen Dakwah  di kampus membutuhkan landasan fiqh yang diartikulasikan secara segar dan  aktual. Keluasan dan keluwesan ajaran Islam amat mendesak untuk diperdalam bagi  para rijalud dakwah yang kebetulan menjadi elit kampus. Manuver-manuver politik  begitu cepat berseliweran di depan mata. Pergolakan pemikiran menjadi dinamika  civitas akademikanya. Selalu saja ada informasi baru yang mengguncangkan.  Sementara generasi baru yang ”hedon-norak” itu begitu aktifnya menjadi  pialang-pialang yang membawa kebudayaan barat di kampus. Perubahan-perubahan  yang begitu cepat dan dinamika serta pergesekan dan persaingan yang begitu tajam  menjadi ciri obyek dakwah (mad’u) di dunia kampus.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Perumusan fiqhud dakwah  kampus amatlah penting. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dan perilaku para  rijalud dakwah di kampus. Kesalahan, kerancuan, kedangkalan, dan kesempitan  pemahaman akan berakibat fatal pada wajah dakwah kampus. Seringkali citra dakwah  tertutupi oleh juru dakwahnya sendiri. Kecenderungan <u>menghakimi</u> terkadang  masih mewarnai sebuah kebijakan. Kurang tasamuh terhadap keberagaman dan  cenderung <u>saklak </u>atau <u>hitam-putih</u> dalam memecahkan masalah.  Padahal kompleksitas masyarakat modern semakin menuntut pola berpikir alternatif  dalam menawarkan solusi.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Pemahaman akan fiqhul  ikhtilaf yang senantiasa mendahulukan sisi positif (husnudzh dzhon) terhadap  setiap orang dan kelompok serta mengkaitkan sisi-sisi positif tersebut dalam  bangunan dakwah masih kurang sekali. Belum cukup kesadaran bahwa setiap rijalud  dakwah harus mendorong terciptanya link-link dengan berbagai golongan dan  kalangan serta beramal jama’I atas apa-apa yang disepakati bersama. Belum cukup  usaha untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat ammah dan keterkaitan  semua unsur sebagai pendukung harakah. Hingga muncullah tuduhan-tuduhan seperti  <u>sok suci</u>, <u>penguasa kebenaran</u>, atau <u>facisme  religius</u>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Oleh karenanya di tingkat  pemahaman perlu pembenhan dan penjernihan agar ada kesatuan pandang dan bahasa  yang sama dari para rijalud dakwah. Kesenjangan dan perbedaan persepsi bisa  menjadi potensi tafaruq di lapangan. Konsep-konsep seperti <u>manhaj</u>,  <u>uslub</u>, <u>harakah</u>, <u>tarbiyah</u>, <u>halaqoh</u>, <u>liqo</u>,  <u>ikhwan</u>, <u>akhwat</u>, <u>futur</u> dan lainnya, telah mengalami bias,  direduksi sebatas idiom dan <strong>disalahkaprahi sebagai satuan-satuan yang  kategoris</strong>. Maka muncullah verbalisme yang pada gilirannya menghambat  komunikasi dengan masyarakat ammah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Namun hal yang amat  mendesak untuk dikaji, dirumuskan, dan disosialisasikan adalah <strong>fiqhul  waqi’i</strong>. Seiring dengan makin besarnya jumlah rijalud dakwah maka  terbukalah peluang-peluang dakwah yang selama ini tak terbayangkan. Semangat  untuk merambah ke berbagai sektor kehidupan-“yang tercermin dengan diambil  alihnya berbagai posisi strategis lembaga kemahasiswaan di kampus”-seharusnya  diiringi oleh bacaan yang kuat terhadap situasi dan kondisi lahan yang akan  digarap. Kalau tidak, akan terjadi fitnah dan inqilabiyah yang dipaksakan  (isti’jal). Manuver-manuver yang dilakukan menjadi tidak smooth. <strong>Dan  sudah menjadi karakter masyarakat kampus yang tidak suka  terhegemonik</strong>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Kebutuhan utama akan  fiqhul waqi’I adalah dalam pembuatan konsep. Oleh karenanya para konseptor yang  lazimnya duduk di <strong>majelis syuro</strong> adalah orang-orang yang matang  dalam pemahaman akan fiqhul waqi’I, cukup jam terbangnya pada medan dakwah yang  akan diterjuni, dan memiliki penguasaan terhadap disiplin ilmu yang berkaitan  erat dengan permasalahan-permasalahan obyek dakwahnya. Tentulah amat sulit  menemukan tiga hal tersebut sekaligus dalam diri seseorang. Selain itu, skala  yang membesar dan kompleksitas yang meningkat membuat semakin tidak mungkin  apabila pembuatan konsep hanya diserahkan pada seseorang saja. Saatnya sekarang  menghadirkan para rijalud dakwah sesuai spealisasi ilmu atau kafa’ahnya dalam  sebuah forum dialog yang seimbang. Penglibatan rijalud dakwah yang ahli dalam  masalah sosiologi misalnya, mendesak untuk dihadirkan agar gerak dakwah yang  dilakukan lebih sosiologis (bil lisani qoumi) dibandingkan pendekatan politik  melulu. <strong>Penglibatan beragam rijalud dakwah dari berbagai disiplin  ilmu</strong> amat dimungkinkan di dunia kampus. Tantangan dakwahnya ada di  depan mata yaitu, bagaimana menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dari  fenomena generasi baru yang “hedon-norak” berikut kebudayaannnya itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Masih berkaitan dengan  fiqhud dakwah, masalah <strong>kiprah muslimah</strong> nampaknya memerlukan  pembahasan tersendiri. Dominasi kaum hawa di beberapa fakultas merupakan  fenomena tersendiri di kampus. Lebih-lebih lagi kalau keberadaannya di kampus  memperoleh-“kalau tidak bisa dibilang klaim”- legitimasi feminisme. Masalah  feminisme jika diletakkan sebagai sebuah aliran pemikiran belaka mungkin hanya  menjadi ghazwah di tataran pemikiran saja. Tapi kalau feminisme sudah menjadi  idiologi sebuah pergerakan, ini tentu saja akan menjadi perbenturan yang  mewarnai kampus di masa datang. Di tingkat nasional, bisa disaksikan maraknya  buruh-buruh perempuan dan merambahnya kaum ibu ke sektor-sektor yang selama ini  tak pernah terbayangkan. Beralihnya peran ibu dari sektor domestik ke sektor  publik ini jelas akan berpengaruh besar di masa datang.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><span>Catatan yang patut  digaris bawahi pada pembahasan di sekitar fiqhud dakwah adalah <strong>manajemen  konflik</strong> bagi para rijalud dakwah. Membicarakan konflik bukanlah  meniatkan terjadinya konflik akan tetapi meniatkan penyelesaian konflik agar  menghasilkan ishlah yang mendatangkan rahmat. Menabukan membicarakan tentang  konflik justru mengingkari kenyataan yang ada. Memendam konflik berarti  menyimpan bom waktu yang akan menjadi bumerang. Oleh karenanya konflik harus  diselesaikan semenjak dini. Seiring dengan terajutnya tali ukhuwah, buatlah  sebuah mekanisme yang mendamaikan perselisiha menjadi islah di atas landasan  ketakwaan. Kalau seorang rijalud dakwah berhasil memanej konfliknya menjadi  sebuah ishlah di atas ketakwaannya maka Allah akan merahmatinya (QS Al Hujurat  ayat 10)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify"><strong><span>Introspeksi dan  Evaluasi</span></strong><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Fenomena kefuturan pada  sementara rijalud dakwah yang menggejala akhir-akhir ini bisa dilihat dari  beberapa sudut. <strong>Hal pertama</strong> yang bisa dilihat adalah  <strong>terhijabnya saluran komunikasi</strong> yang menimbulkan mis-persepsi  dan <strong>tidak terserapnya permasalahan-permasalahan</strong> yang berkembang  secara optimal. Komunikasi yang tidak efektif juga berdampak pada rendahnya  pemahaman akan apa yang sebenarnya tengah diperdalam dan diperjuangkan. Akhirnya  timbullah disorientasi pada sebagian rijalud dakwah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Hal  kedua</span></strong><span> sebagai akibat dari hal pertama adalah  <strong>terhambatnya aktualisasi diri sebagian rijalud dakwah yang kurang sabar  dan kurang pandai memahami tapi terkenal kritis, kreatif, aktif, dan  progresif</strong>. Mereka yang sangat ekspresif dan energik ini, sebenarnya  aset yang mahal dalam barisan rijalud dakwah. Oleh karenanya dibutuhkan  langkah-langkah yang antisipatif untuk mengarahkan mereka kearah-arah yang tepat  dan telah dipersiapkan dengan matang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Hal  ketiga</span></strong><span> sebagai akibat dari hal kedua adalah terjadinya  <strong>stagnasi internal</strong>, di mana terdapat kecenderungan untuk  <strong>defensif, tidak argumentatif, dan tidak antisipatif</strong> terhadap  perkembangan yang ada. Kecenderungan yang umum adalah bertahan pada apa yang  sudah ada, beku pada apa yang dianggap baku, takut berkreatifitas, malu  berinovasi, khawatir salah, dan pasif menerima apa adanya. Akhirnya  <strong>muncullah kebosanan dan kebencian akan kemapanan yang bersifat  emosional</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Hal  keempat</span></strong><span> dan terakhir adalah <strong>rongrongan  eksternal</strong>. Bagaimanapun golongan kiri, kanan, haddamah, dan generasi  baru yang menjadi pialang peradaban barat akan merongrong terus baik secara  politis maupun pemikiran dengan pola kerja yang sistematis. Sementara-“di  sinilah pentingnya fiqhul ikhtilaf dan pemahaman terhadap harokah yang  baik”-kelompok politik atau aliran pemikiran tertentu dalam Islam lainnya  menawarkan berbagai alternatif lain untuk dipilih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<h2><span style="font-size: 12pt">Khatimah</span><span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Memenej  dakwah pada hakekatnya menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini. Jangan  sampai ketika kita berdakwah di kampus, kaidah <em>dakwah ‘ammah wa harokatudzh  dzhohiroh</em> (dakwah umum dan aktifitas terbuka) berubah perlahan-lahan  menjadi kaidah <em>dakwah khashshah</em> <em>wa harokatus sirriyah </em>(dakwah  khusus dan aktifitas tertutup). </span><span>Jangan sampai ketika kita  berdakwah, melakukan suatu kegiatan di kampus, pemberi materinya kita,  panitianya kita, dan para pesertanyapun kita semua. Marilah kita belaku  professional dalam berdakwah sehingga kita dapat menjalankan tugas sebagai  khalifah di muka bumi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify"><span>Allah  menyaksikan apa yang terlintas pada setiap lubuk hati para Aktifis Dakwah  Kampus. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau, aku bersaksi tiada Ilah  kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada Mu dan aku bertaubat kepada  Mu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>ksatria kecil tak  bernama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>di garda depan medan juang  !!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em>**artikel dari kang Bachtiar</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/04/24/dakwah-kampus-harapan-dan-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Masa itu pasti akan tiba</title>
		<link>http://www.musyarof.net/2008/04/20/masa-itu-pasti-akan-tiba/</link>
		<comments>http://www.musyarof.net/2008/04/20/masa-itu-pasti-akan-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 09:23:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musyarof</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Goresan pena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.musyarof.net/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala manusia telah dikuasai oleh nafsunya, serta firman Alloh dan sabda nabinya tak di indahkan, maka kehinaan hidup di dunia dan akhiratlah baginya.
Wahai manusia, ingatlah, engkau hidup di dunia ini hanya sementara, besok engkau akan menemui kematian. Ya…. Dirimu tak lagi bisa lagi berkata – kata, bercanda dan tertawa.
Kan sirnalah semuanya, pupus sudah harapanmu. Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Tatkala manusia telah dikuasai oleh nafsunya, serta firman Alloh dan sabda nabinya tak di indahkan, maka kehinaan hidup di dunia dan akhiratlah baginya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Wahai manusia, ingatlah, engkau hidup di dunia ini hanya sementara, besok engkau akan menemui kematian. Ya…. Dirimu tak lagi bisa lagi berkata – kata, bercanda dan tertawa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><st1:place w:st="on"><st1:state w:st="on">Kan</st1:state></st1:place> sirnalah semuanya, pupus sudah harapanmu. Tak ada lagi kesempatan untuk beramal sholeh. Tak ada lagi waktu untuk beribadah dan menjalankan semua kewajiban.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Wahai insan… segeralah bangkit dan berlari … kejarlah ketertinggalan. Karena setiap detik yang berjalan, hakekatnya sedang mendekati ajal. Tiap kita hanya memiliki dua pilihan di akhir nanti. SURGA atau NERAKA.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Ya robb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di negeri akhirat. Dan selamatkanlah kami dari siksa api neraka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.musyarof.net/2008/04/20/masa-itu-pasti-akan-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
