Latar Belakang
Salah satu sifat asholah dakwah adalah tetap konstan dalam masalah ushul dan bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman. Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual tentu berbeda ketika berdakwah terhadap masyarakat awam. Kendati esensi yang disampaikan adalah sama, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara dan pendekatan yang dilakukan. Semua ini mengingat adanya latar belakang, situasi-kondisi, watak dan karakter yang berbeda pada setiap strata masyarakat, bahkan lebih spesifik lagi pada setiap individu manusia. Kita bisa melihat dalam siroh, bagaimana Rasulullah memperlakukan masing-masing shahabat dan masyarakat yang dihadapinya.
Dalam kerangka dakwah yang manhajiyyah, dikenal dua model pendekatan, yaitu dakwah ‘ammah dan dakwah khashshah. Di mana kaidah dakwah pada asalnya adalah ‘ammah tetapi karena kondisi-kondisi tertentu dapat menjadikannya khashshah. Pada dakwah ‘ammah, seluruh kaidah-kaidah yang berlaku bersifat umum, universal, mulai dari tema pembicaraan, terget yang akan dicapai sampai sarana yang akan digunakan adalah bersifat umum. Sedangkan pada dakwah khashshah, ia bersifat spesifik dan tertutup, baik berupa cara, target maupun sarana yang digunakan. Untuk mempermudah pemahaman kita dalam masalah ini, kita bisa nisbatkan ke dalam marhaliyah dakwah kita, yaitu tabligh, ta’lim, dan takwin. Yang termasuk dakwah ‘ammah adalah tabligh dan ta’lim sedangkan takwin termasuk dalam dakwah khashshah.
Kedua pendekatan dakwah tersebut dilakukan secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan yang ada. Oleh karena itu dirasa perlu untuk membuat suatu kerangka landasan untuk mengoperasikan semua program Dakwah Kampus dalam bentuk rencana strategi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah yang manhaji dengan memperhatikan kondisi waqi’I-nya. Dengan demikian diharapkan usaha dan upaya penataan dan konsolidasi Dakwah Kampus bisa dijalankan secara terprogram dan rapih sehingga hasilnyapun dapat optimal dan tentunya Allah SWT akan memberikan ganjaran atas ihsanul ‘amal para hambanya. Intinya, Dakwah Kampus yang kita lakukan diharapkan mempunyai Grand Design Dakwah, sehingga memiliki rencananya (Dakwah by Design). Semua Qiyadah dan setiap Jundinya tahu betul situasi dan kondisi yang sedang dihadapi, strategi dan program apa yang harus dilakukan, kriteria SDM yang dibutuhkan serta menuju tahapan Dakwah Kampus mana arahan dakwah mereka.
Paradigma-Paradigma Dasar
Sebelum menentukan sebuah strategi penataan Dakwah Kampus, ada baiknya kita tentukan dulu Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita sebagai kerangka acuan seluruh pembicaraan selanjutnya. Adapun Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita adalah sebagai berikut:
1. Sesuai dengan asholah dakwah (orisinalitas dakwah) maka Dakwah Kampus harus disampaikan kepada semua lapisan golongan masyarakat kampus, bahkan kepada semua individu manusia, karena dakwah yang tidak tersosialisasi dengan baik pada masyarakatnya niscaya tidak akan memiliki basis pergerakan yang kokoh (al-qoidatush sholbah), yang pada gilirannya akan mengalami disorientasi dakwah. Ada suatu kaidah dakwah yang harus selalu diingat oleh setiap da’I yaitu kita (para da’I) berasal dari mereka (masyarakat), akan bersama mereka, dan kembali pada mereka (nahnu minhum, wa ma’ahum, wa ‘alaihim).
2. Kaidah Dakwah di Kampus adalah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka). Dakwah umum maksudnya mampu membahasakan muatan dan aktifitasnya agar mudah diterima oleh berbagai jenis pemikiran dengan bahasa umum dan universal serta lebih adaptif pada kondisi dan situasi riil. Gerak yang terbuka (jelas) maksudnya suatu gerak aktifitas yang mencerminkan kerapihan, keindahan, dan kesinambungan (profesionalitas) sehingga aktifis dan sasaran dakwah kampus mampu menangkap suatu suasana Islami yang nyata, berada pada dataran menyatu dengan denyut kehidupan kampus.
3. Kaidah yang lain adalah Dakwah Kampus bukan hanya untuk Dakwah Kampus. Ketika berdakwah di Kampus, para aktifis dakwah kampus (ADK) harus menyadari bahwa aktifitas dakwah mereka dibatasi oleh batas waktu kuliah (4-6 tahun), suasana yang homogen (mahasiswa yg dominan dari segi jumlah, umur yang sebaya serta tujuan untuk berkuliah) serta usia mereka yang terus bertambah. Dakwah yang sebenarnya ada diluar kampus, waktu yang lebih lama yaitu lebih dari 45 tahun (berdasar life expectancy manusia Indonesia 65 tahun), masyarakat yang heterogen serta kehidupan nyata/riil yang lebih kompleks dibandingkan kampus. Sehingga para ADK harus menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan paska kampus agar mereka survive, tetap terus berdakwah paska kampus. Mereka harus mempunyai kompetensi (IPK, professional, keahlian khusus dan umum) dan kredibilitas (moralitas, sosial dan perilaku) yang tinggi.
4. Untuk menunjang operasi dan manuver Dakwah Kampus maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, baik internal maupun eksternal. Sehingga semua sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, selama hal tersebut telah dipertimbangkan secara fiqhus syar’I dan fiqhul waqi’ (realitas) serta diputuskan lewat mekanisme syuro yang shahih. Ibarat suatu atom, dakwah harus bisa membuat lingkungan di sekitarnya berputar-putar mengelilinginya meskipun dalam orbit yang berbeda-beda. Kaidah ini pun merupakan penjabaran lebih lanjut dari kaidah Dakwah ‘Ammah karena mengikutsertakan para mahasiswa selain para ADK. Dakwah Kampus makin membumi dan mengakar.
5. Program Dakwah Kampus yang akan digulirkan haruslah diset-up secara marhaliyah (bertahap) dengan mempertimbangkan fiqhul awlawiyat (azas prioritas) dan fiqhul muwazanat (azas kesetimbangan), dan harus senantiasa dimutaba’ahi hasilnya (in control). Hal ini dimaksudkan agar obyek dakwah mendapatkan treatmen yang sesuai dengan pemahamannya dan di sisi lain hal-hal yang berbobot amniyyah tetap terjaga.
6. Dalam pelaksanaan Dakwah Kampus harus memperhatikan prinsip amal jama’i. Adalah merupakan sunnatullah yang tetap bahwa segala sesuatunya mempunyai keterbatasan masing-masing. Islam mewajibkan berjama’ah dalam rangka saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan dan kesempurnaan. Para pemimpin dan prajurit dakwah harus menata dirinya menjadi suatu shaff yang rapih bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam beramal jama’I diperlukan software berupa minhaj (metode), wasilah (sarana), dan uslub (cara). Dengan kata lain diperlukan strategi dan program yang akan diaktualisasikan. Selain itu juga diperlukan hardware berupa sistem yang rapih dan koordinasi yang solid serta terarah.
7. Dakwah Islam adalah dakwah syamilah yaitu sesuai dengan sifat Islam itu sendiri. Ini berarti bahwa Dakwah Kampus harus bisa masuk ke semua sektor dan menjawab semua tantangan yang dihadapinya. Peng’kotak-kotak’an dakwah hanya pada bidang-bidang tertentu saja adalah merupakan kesalahan besar. Dakwah meliputi semua aspek dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan dakwah kampus, dakwah harus bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan yang ada di kampus. Ia meliputi, keilmiahan (IPTEK), keorganisasian, kepemimpinan, manajerial, administrasi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Dakwah Kampus harus mampu melahirkan SDM-SDM yang tangguh untuk melakukan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, mempengaruhi, menerjemahkan, atau merumuskan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan-kebijakan publik
Urgensi Dakwah Kampus
Urgensi pemolaan manajemen Dakwah Kampus bukanlah semata-mata karena tuntutan modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk lebih komprehensif memolakan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat yang digugu, ditiru, dan dipanuti. Jadi membuat nidzham yang sistemik dan pemprograman yang jelas merupakan kewajiban bagi setiap rijalud dakwah yang bermujahadah. Artinya, mentakwin ummat, membentuk generasi rabbani, dan menuju khairu ummah, bukanlah membangun kerajaan pendeta, rezim junta militer yang facistis, atau sekedar membuat konfrensi internasional. Akan tetapi risalahnya adalah mewujudkan pemahaman yang syamil (tidak juz’I) pada setiap diri muslim sekaligus mengejawantahkannya pada peradaban yang lengkap (tidak sektoral). Ali Ra pernah berkata: Al Haq yang tidak ternidzham akan dikalahkan oleh al bathil yang ternizham.
Kampus adalah komunitas kecil yang merepresentasikan sebuah negara dalam skala mini. Kampus juga bisa dipandang sebagai pusat informasi yang paling cepat mengolah data menjadi konseo-konsep yang siap diterapkan di tengah masyarakat. Kampus adalah sebuah wahana yang mampu membahas segala permasalahan secara komprehensif melalui pendekatan multi dimensional. Dari sisi rekrutmen, kampus merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berpotensi menjadi penentu kebijakan di masa datang. Bahkan pada saat-saat tertentu kampus dapat juga menjadi faktor yang ikut menentukan perubahan sejarah.
Oleh karenanya kampus dapat dijadikan sebagai sebuah laboratorium untuk menelurkan berbagai konsep. Sekaligus berfungsi pula sebagai sarana latihan bagi para rijalud dakwah dalam menerapkan konsep-konsep tersebut. Homogenitas komunitas kampus justru bisa menjadi kekuatan untuk menguji seberapa handal kualitas sumber daya manusia yang ada dan seberapa bagus konsep yang ditelurkan. Sesungguhnya pergesekan elit dan perdebatan konsep terjadi pada masyarakat yang berpendidikan tinggi. Sementara, untuk menghindari kecenderungan untuk menjadi elitis harus dirumuskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat luas.
Manajemen Dakwah Kampus
Apabila telah muncul persamaan persepsi pada diri setiap rijalud dakwah tentang urgensi dakwah kampus, amat penting untuk segera dipetakan permasalahan yang ada. Di sinilah perlunya para rijalud dakwah yang memiliki kemampuan manajerial tinggi. Selain itu perlu juga dikerahkan rijalud dakwah dari beragam disiplin ilmu untuk dapat mendekati permasalahan secara multi dimensional.
Selama ini pengelolaan dakwah kampus lebih nampak sebagai sebuah paguyuban. Lembaga musholla, rohani islam, atau lembaga dakwah kampus menunjukkan kekeluargaan yang tinggi dan mampu mengikat banyak orang. Akan tetapi pengelolaan organisasinyacenderung tradisional. Ketergantungan akan figur masih sangat tinggi, sementara sistemnya-kalau tidak bisa dibilang amburadul-sangat lemah. Lembaga lainnya di kampus nampak memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melahirkan nidzham yang sistemik. Dalam hal profesionalitas dan etos kerja, harus diakui bahwa para rijalud dakwah masih kalah dengan para pialang peradaban barat, minimal dalam hal performance-nya.
Oleh karenanya hal pertama yang harus disosialisasikan adalah urgennya diselenggarakan diklat-diklat Manajemen Dakwah Kampus di setiap kampus. Mulai dari tingkat universitas, fakultas, unit-unit kegiatan, sampai jurusan-jurusan. Harus dirumuskan sebuah paket standard dalam bentuk modul atau diktat yang menjadi tolak ukur bagi peningkatan sumber daya manusia para rijalud dakwah. Paket tersebut meliputi Manhaj Dakwah Kampus, tarbiyah ruhiyah, fiqhud dakwah, fiqhul waqi’I, dauroh murabbi, dauroh sospol, dauroh akademik, dauroh ijtima’iyyah, dan ketrampilan manajemen dakwah. Pada hakekatnya paket-paket ini merupakan dauroh tarqiyah yang dikemas secara menarik.
Manajemen Dakwah Kampus dapat dijabarkan sebagai kiat-kiat, teknik, panduan, juklak, atau bahkan model-model dan format kegiatan yang bersifat kongkret. Manajemen Dakwah Kampus merupakan turunan langsung dari konsep dasar yang bersifat abstrak seperti yang termaktub dalam materi fiqhud dakwah. Diharapkan para rijalud dakwah memiliki bekal kemampuan praktis seperti, merumuskan masalah, komunikasi massa, teknik negoisasi, berpikir alternatif, manajemen strategi, rekayasa sospol, manajemen rapat, manajemen issu dan opini publik, networking, pengembangan kreatifitas, membuat keputusan, dan penerapannya dalam sebuah organisasi. Minimal seorang rijalud dakwah memiliki kemahiran mengelola sebuah kepanitiaan.
Harapannya adalah semakin banyak dihasilkan konsep-konsep terapan yang siap pakai di lapangan akan semakin banyak pula praktisi yang siap bekerja untuk dakwah. Suatu saat tidak ada lagi prinsip “yang penting kerja” akan tetapi telah berubah menjadi “yang penting kerja dengan ihsan”. Suatu saat juga tidak ada lagi pertanyaan “bagaimana ?” ketika seseorang diamanahkan sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak ada lagi orang yang tidak bekerja, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi tidak tahu apa yang mesti dikerjakannya dan atau tidak mampu mengerjakannya.
Fiqhud Dakwah sebagai Konsep Dasar
Pemolaan Manajemen Dakwah di kampus membutuhkan landasan fiqh yang diartikulasikan secara segar dan aktual. Keluasan dan keluwesan ajaran Islam amat mendesak untuk diperdalam bagi para rijalud dakwah yang kebetulan menjadi elit kampus. Manuver-manuver politik begitu cepat berseliweran di depan mata. Pergolakan pemikiran menjadi dinamika civitas akademikanya. Selalu saja ada informasi baru yang mengguncangkan. Sementara generasi baru yang ”hedon-norak” itu begitu aktifnya menjadi pialang-pialang yang membawa kebudayaan barat di kampus. Perubahan-perubahan yang begitu cepat dan dinamika serta pergesekan dan persaingan yang begitu tajam menjadi ciri obyek dakwah (mad’u) di dunia kampus.
Perumusan fiqhud dakwah kampus amatlah penting. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dan perilaku para rijalud dakwah di kampus. Kesalahan, kerancuan, kedangkalan, dan kesempitan pemahaman akan berakibat fatal pada wajah dakwah kampus. Seringkali citra dakwah tertutupi oleh juru dakwahnya sendiri. Kecenderungan menghakimi terkadang masih mewarnai sebuah kebijakan. Kurang tasamuh terhadap keberagaman dan cenderung saklak atau hitam-putih dalam memecahkan masalah. Padahal kompleksitas masyarakat modern semakin menuntut pola berpikir alternatif dalam menawarkan solusi.
Pemahaman akan fiqhul ikhtilaf yang senantiasa mendahulukan sisi positif (husnudzh dzhon) terhadap setiap orang dan kelompok serta mengkaitkan sisi-sisi positif tersebut dalam bangunan dakwah masih kurang sekali. Belum cukup kesadaran bahwa setiap rijalud dakwah harus mendorong terciptanya link-link dengan berbagai golongan dan kalangan serta beramal jama’I atas apa-apa yang disepakati bersama. Belum cukup usaha untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat ammah dan keterkaitan semua unsur sebagai pendukung harakah. Hingga muncullah tuduhan-tuduhan seperti sok suci, penguasa kebenaran, atau facisme religius.
Oleh karenanya di tingkat pemahaman perlu pembenhan dan penjernihan agar ada kesatuan pandang dan bahasa yang sama dari para rijalud dakwah. Kesenjangan dan perbedaan persepsi bisa menjadi potensi tafaruq di lapangan. Konsep-konsep seperti manhaj, uslub, harakah, tarbiyah, halaqoh, liqo, ikhwan, akhwat, futur dan lainnya, telah mengalami bias, direduksi sebatas idiom dan disalahkaprahi sebagai satuan-satuan yang kategoris. Maka muncullah verbalisme yang pada gilirannya menghambat komunikasi dengan masyarakat ammah.
Namun hal yang amat mendesak untuk dikaji, dirumuskan, dan disosialisasikan adalah fiqhul waqi’i. Seiring dengan makin besarnya jumlah rijalud dakwah maka terbukalah peluang-peluang dakwah yang selama ini tak terbayangkan. Semangat untuk merambah ke berbagai sektor kehidupan-“yang tercermin dengan diambil alihnya berbagai posisi strategis lembaga kemahasiswaan di kampus”-seharusnya diiringi oleh bacaan yang kuat terhadap situasi dan kondisi lahan yang akan digarap. Kalau tidak, akan terjadi fitnah dan inqilabiyah yang dipaksakan (isti’jal). Manuver-manuver yang dilakukan menjadi tidak smooth. Dan sudah menjadi karakter masyarakat kampus yang tidak suka terhegemonik.
Kebutuhan utama akan fiqhul waqi’I adalah dalam pembuatan konsep. Oleh karenanya para konseptor yang lazimnya duduk di majelis syuro adalah orang-orang yang matang dalam pemahaman akan fiqhul waqi’I, cukup jam terbangnya pada medan dakwah yang akan diterjuni, dan memiliki penguasaan terhadap disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan obyek dakwahnya. Tentulah amat sulit menemukan tiga hal tersebut sekaligus dalam diri seseorang. Selain itu, skala yang membesar dan kompleksitas yang meningkat membuat semakin tidak mungkin apabila pembuatan konsep hanya diserahkan pada seseorang saja. Saatnya sekarang menghadirkan para rijalud dakwah sesuai spealisasi ilmu atau kafa’ahnya dalam sebuah forum dialog yang seimbang. Penglibatan rijalud dakwah yang ahli dalam masalah sosiologi misalnya, mendesak untuk dihadirkan agar gerak dakwah yang dilakukan lebih sosiologis (bil lisani qoumi) dibandingkan pendekatan politik melulu. Penglibatan beragam rijalud dakwah dari berbagai disiplin ilmu amat dimungkinkan di dunia kampus. Tantangan dakwahnya ada di depan mata yaitu, bagaimana menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dari fenomena generasi baru yang “hedon-norak” berikut kebudayaannnya itu.
Masih berkaitan dengan fiqhud dakwah, masalah kiprah muslimah nampaknya memerlukan pembahasan tersendiri. Dominasi kaum hawa di beberapa fakultas merupakan fenomena tersendiri di kampus. Lebih-lebih lagi kalau keberadaannya di kampus memperoleh-“kalau tidak bisa dibilang klaim”- legitimasi feminisme. Masalah feminisme jika diletakkan sebagai sebuah aliran pemikiran belaka mungkin hanya menjadi ghazwah di tataran pemikiran saja. Tapi kalau feminisme sudah menjadi idiologi sebuah pergerakan, ini tentu saja akan menjadi perbenturan yang mewarnai kampus di masa datang. Di tingkat nasional, bisa disaksikan maraknya buruh-buruh perempuan dan merambahnya kaum ibu ke sektor-sektor yang selama ini tak pernah terbayangkan. Beralihnya peran ibu dari sektor domestik ke sektor publik ini jelas akan berpengaruh besar di masa datang.
Catatan yang patut digaris bawahi pada pembahasan di sekitar fiqhud dakwah adalah manajemen konflik bagi para rijalud dakwah. Membicarakan konflik bukanlah meniatkan terjadinya konflik akan tetapi meniatkan penyelesaian konflik agar menghasilkan ishlah yang mendatangkan rahmat. Menabukan membicarakan tentang konflik justru mengingkari kenyataan yang ada. Memendam konflik berarti menyimpan bom waktu yang akan menjadi bumerang. Oleh karenanya konflik harus diselesaikan semenjak dini. Seiring dengan terajutnya tali ukhuwah, buatlah sebuah mekanisme yang mendamaikan perselisiha menjadi islah di atas landasan ketakwaan. Kalau seorang rijalud dakwah berhasil memanej konfliknya menjadi sebuah ishlah di atas ketakwaannya maka Allah akan merahmatinya (QS Al Hujurat ayat 10)
Introspeksi dan Evaluasi
Fenomena kefuturan pada sementara rijalud dakwah yang menggejala akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa sudut. Hal pertama yang bisa dilihat adalah terhijabnya saluran komunikasi yang menimbulkan mis-persepsi dan tidak terserapnya permasalahan-permasalahan yang berkembang secara optimal. Komunikasi yang tidak efektif juga berdampak pada rendahnya pemahaman akan apa yang sebenarnya tengah diperdalam dan diperjuangkan. Akhirnya timbullah disorientasi pada sebagian rijalud dakwah.
Hal kedua sebagai akibat dari hal pertama adalah terhambatnya aktualisasi diri sebagian rijalud dakwah yang kurang sabar dan kurang pandai memahami tapi terkenal kritis, kreatif, aktif, dan progresif. Mereka yang sangat ekspresif dan energik ini, sebenarnya aset yang mahal dalam barisan rijalud dakwah. Oleh karenanya dibutuhkan langkah-langkah yang antisipatif untuk mengarahkan mereka kearah-arah yang tepat dan telah dipersiapkan dengan matang.
Hal ketiga sebagai akibat dari hal kedua adalah terjadinya stagnasi internal, di mana terdapat kecenderungan untuk defensif, tidak argumentatif, dan tidak antisipatif terhadap perkembangan yang ada. Kecenderungan yang umum adalah bertahan pada apa yang sudah ada, beku pada apa yang dianggap baku, takut berkreatifitas, malu berinovasi, khawatir salah, dan pasif menerima apa adanya. Akhirnya muncullah kebosanan dan kebencian akan kemapanan yang bersifat emosional.
Hal keempat dan terakhir adalah rongrongan eksternal. Bagaimanapun golongan kiri, kanan, haddamah, dan generasi baru yang menjadi pialang peradaban barat akan merongrong terus baik secara politis maupun pemikiran dengan pola kerja yang sistematis. Sementara-“di sinilah pentingnya fiqhul ikhtilaf dan pemahaman terhadap harokah yang baik”-kelompok politik atau aliran pemikiran tertentu dalam Islam lainnya menawarkan berbagai alternatif lain untuk dipilih.
Khatimah
Memenej dakwah pada hakekatnya menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini. Jangan sampai ketika kita berdakwah di kampus, kaidah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka) berubah perlahan-lahan menjadi kaidah dakwah khashshah wa harokatus sirriyah (dakwah khusus dan aktifitas tertutup). Jangan sampai ketika kita berdakwah, melakukan suatu kegiatan di kampus, pemberi materinya kita, panitianya kita, dan para pesertanyapun kita semua. Marilah kita belaku professional dalam berdakwah sehingga kita dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.
Allah menyaksikan apa yang terlintas pada setiap lubuk hati para Aktifis Dakwah Kampus. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau, aku bersaksi tiada Ilah kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada Mu dan aku bertaubat kepada Mu.
ksatria kecil tak bernama
di garda depan medan juang !!!
**artikel dari kang Bachtiar